Rabu, 25 September 2013

Refleksi Kuliah Filsafat Ilmu



Refleksi Kuliah Filsafat 1

Filsafat adalah diriku.
Dan, filsafatku adalah pikiranku. Apa yang aku pikirkan, pengalamanku, dll sehingga filsafatku dengan orang lain berbeda. Yang aku pikirkan mencakup yang ada dan yang mungkin ada. Diantara keduanya terbentang jembatan penghubung yaitu pikiranku sendiri. Memahami akan hal tersebut, lalu saya refleksi diri, bahwa sungguh Tuhan Maha Adil. Dia menciptakan suatu hal di dunia ini beserta kontradiksinya.
Dalam berfilsafat membutuhkan referensi sebagai jembatan penyeimbang. Referensi merupakan tesis dan antithesis. Antitesisnya adalah pikiran kita. Misal,dalam pendidikan kita muncul pemberontakan-pemberontakan yang menginginkan revolusi pendidikan, tidak sekedar teori, tetapi juga harus diimbangi dengan prakteknya. Teori sendiri termasuk referensi yang merupakan tesisnya, sedangkan prakteknya merupakan pengalaman yang menjadi antitesisnya. Meskipun kita menggunakan referensi, tetapi kita masih bisa mengembangkan pikiran dan kreativitas kita.
Filsafat itu juga tidak jauh dari kita. Dalam kehidupan sehari-hari pun kita bisa berfilsafat, yaitu yang ada dan yang mungkin ada yang relatif terhadap ruang dan waktu. Entah mana yang lebih dahulu lahir. Jawabannya ada dalam pikiran kita masing-masing.
Filsafat adalah ilmu yang mempelajari segala aturan dan hukum-hukum yang membalut kehidupan kita. Namun, ilmu filsafat tidak akan tersampaikan dengan baik tanpa adanya campur tangan bahasa. Nah, bahasa pun juga takkan bermakna tanpa kehadiran unsur bahasa, yaitu Subyek dan Predikat. Misalnya, ketika saya hendak mengatakan kalimat “Saya senang”. Sebagai subyeknya yaitu kata “saya” dan predikatnya adalah kata “ senang “. Jika subyek berdiri sendiri maka hanya akan keluar kata “saya”, maka hal itu justru memunculkan beberapa pertanyaan. Saya kenapa? Ada apa dengan saya?, dll. Begitu juga sebaliknya dengan jika hanya terdiri hanya predikatnya saja. Semua itu akan berbeda jika subyek dan predikat saling berdekatan, maka maknanya akan tersampaikan. Jelaslah sudah apa yang terjadi dengan “saya”. Dari hal di atas maka singkatnya bahwa unsur bahasa yaitu subyek dan predikat saling melengkapi.
Begitu juga dengan filsafat pendidikan matematika. Melalui jembatan yaitu bahasa, Pak Marsigit dapat menyampaikan materi pembelajaran, tujuan, dan manfaat mempelajari filsafat. Sehingga antara Pak Marsigit dengan mahasiswa dapat terjadi interaksi diskusi dalam forum tanya jawab. Untuk apa Pak Marsigit melakukan hal itu? Menurut saya Beliau menuntunku dalam membangun duniaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar