Refleksi
Kuliah Filsafat 1
Filsafat adalah diriku.
Dan, filsafatku adalah pikiranku. Apa yang aku
pikirkan, pengalamanku, dll sehingga filsafatku dengan orang lain berbeda. Yang
aku pikirkan mencakup yang ada dan yang mungkin ada. Diantara keduanya
terbentang jembatan penghubung yaitu pikiranku sendiri. Memahami akan hal
tersebut, lalu saya refleksi diri, bahwa sungguh Tuhan Maha Adil. Dia
menciptakan suatu hal di dunia ini beserta kontradiksinya.
Dalam berfilsafat membutuhkan referensi sebagai
jembatan penyeimbang. Referensi merupakan tesis dan antithesis. Antitesisnya
adalah pikiran kita. Misal,dalam pendidikan kita muncul
pemberontakan-pemberontakan yang menginginkan revolusi pendidikan, tidak
sekedar teori, tetapi juga harus diimbangi dengan prakteknya. Teori sendiri
termasuk referensi yang merupakan tesisnya, sedangkan prakteknya merupakan
pengalaman yang menjadi antitesisnya. Meskipun kita menggunakan referensi,
tetapi kita masih bisa mengembangkan pikiran dan kreativitas kita.
Filsafat itu juga tidak jauh dari kita. Dalam
kehidupan sehari-hari pun kita bisa berfilsafat, yaitu yang ada dan yang mungkin
ada yang relatif terhadap ruang dan waktu. Entah mana yang lebih dahulu lahir.
Jawabannya ada dalam pikiran kita masing-masing.
Filsafat
adalah ilmu yang mempelajari segala aturan dan hukum-hukum yang membalut
kehidupan kita. Namun, ilmu filsafat tidak akan tersampaikan dengan baik tanpa
adanya campur tangan bahasa. Nah, bahasa pun juga takkan bermakna tanpa
kehadiran unsur bahasa, yaitu Subyek dan Predikat. Misalnya, ketika saya hendak
mengatakan kalimat “Saya senang”. Sebagai subyeknya yaitu kata “saya” dan
predikatnya adalah kata “ senang “. Jika subyek berdiri sendiri maka hanya akan
keluar kata “saya”, maka hal itu justru memunculkan beberapa pertanyaan. Saya
kenapa? Ada apa dengan saya?, dll. Begitu juga sebaliknya dengan jika hanya
terdiri hanya predikatnya saja. Semua itu akan berbeda jika subyek dan predikat
saling berdekatan, maka maknanya akan tersampaikan. Jelaslah sudah apa yang
terjadi dengan “saya”. Dari hal di atas maka singkatnya bahwa unsur bahasa
yaitu subyek dan predikat saling melengkapi.
Begitu
juga dengan filsafat pendidikan matematika. Melalui jembatan yaitu bahasa, Pak
Marsigit dapat menyampaikan materi pembelajaran, tujuan, dan manfaat
mempelajari filsafat. Sehingga antara Pak Marsigit dengan mahasiswa dapat
terjadi interaksi diskusi dalam forum tanya jawab. Untuk apa Pak Marsigit
melakukan hal itu? Menurut saya Beliau menuntunku dalam membangun duniaku.